Surga Untuk Ibuku - Sebuah Novel Hasil Karya Riri Ansar ( EPISODE 02 )

Surga Untuk Ibuku - Sebuah Novel Hasil Karya Riri Ansar ( EPISODE 02 )
Di perankan Oleh Model - Halusinasi Gambar

     Bang Ipul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, baru saja anak yang ada di depannya itu bilang kalau ia habis dikejar anjing namun seperti tak ada rasa lelah malah langsung membantunya bekerja merapikan koran dan majalah. Bang Ipul adalah emilik kios koran dan majalah sekaligus agen untuk pedagang eceran yang ada di komplek itu. Setiap pagi sudah banyak pedagag eceran yang anri untuk mengambil dagangan begitu sebuah mobil boks datang dan membongkar muatannya.

  Matahari kian hangat bersinar, jalanan mulai ramai oleh lalu-lalang kendaraan. Lontar terlihat asik menikmati nasi uduk yang dibelikan oleh Bang Ipul yang juga asik menikmati kopi disebelah Lontar. "Lontar, umur kau sekaang berapa?" tanya Bang Ipul. "Sepuluh, Bang" jawab Lontar singkat, mulutnya msih penuh oleh nasi uduk. Bang Ipul manggut-manggut, ia kembali meneguk kopu pahitnya. Matanya menatap Lontar yang memang kini terlihat makin besar, nadam kurusnya mengingatkan Bang Ipul ke masa kecilnya dulu di Medan. Ia pun menjalani kehidupan yang keras seperti Lontar, hal itu yang membuatnya sangat menyayangi Lontar.

"Lontar, coba kau bilang sekali lagi sama Ibu kau itu, bilang kalau kau ingin tinggal sama Abang disini,". Lontar menghentikan makannya, ia lalu me-natap lelaki tua yang ada di sebelahnya. "Bang, Lontar sudah sering bilang itu, tapi Ibu malah marah. Dibilangnya Lontar tak mau tinggal sama Ibu, Lontar habis dipukulnya," ucap Lontar menunjukkan bekas luka lebam di pahanya. "Gila kali ibu kau itu." Ucap Bang Ipul sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bang Ipul mendengus, ia memang tak suka dengan Marni, Ibu Lontar yang dianggapnya hanya mementingkan diri sendri tanpa memerhatikan anak semata wayangnya. Pelacur kelas teri yang tak memiliki masa depan untuk merawat dan membimbing anaknya.
 Bang Ipul mengusap rambut Lontar lalu ia berjalan menuju kesebuah warung yang tak jauh dari kios koran miliknya, ia kembali membawa air mineral dalam botol kecil lalu memberikannya ke Lontar yang  langsung saja meneguk isinya. "Kenapa Abang tak langsung bilang ke Ibu? Lontar juga kadang bosan tidur di gubuk itu, dingin sekali,". "Ibu kau itu memang keras kepala, tapi dia pasti tahu alasan yang sebenarnya. Abang ingin kau itu sekolah, menjadi sarjana dan punya hidup lebih baik, tak seperti sekarang. Tidur kedinginan, baju pun tak punya, oh iya, bukannya Abang pernah kasih kau baju baru? Kenapa tak kau pakai?". "Baju itu di jual Ibu". jawab Lontar santai. "Kurang ajar," gumam Bang Ipul. Dalam hati Bang Ipul kini dipenuhi rasa kesal pada Marni, benar-benar sudah lewat batas. "Ibu belikan nasi padang, katanya itu hasil dari jual baju," .

Bang Ipul kembali mendengus, menarik napas lalu membuangnya perlahan seakan menahan amarah yang begitu besar. Ia lalu berdiri dan minta Lontar menjaga kiosnya sementara ia harus menyelesaikan satu hal. Lontar mengangguk dan ia pun membersihkan sisa makanan yang jatuh di meja kios, membuangnya ke tempat sampah yang ada di trotoar. Suara deru mesin kendaraan dan klakson makin terdengar matahari pun sudah semakin tinggi tegak di kepala saat Lontar sibuk merapikan koran yang sudah dibaca orang tanpa membelinya. Kadang ia ingin marah tapi itu memang hak orang, dan Bang Ipul selalu mengajarinya agar berlaku sopan pada pembeli.

"Koraaaannnn!!!" teriak Lontar membelah deru mesin kendaraan yang ada di perempatan lampu merah. Tak ada satupun yang membeli korannya, namun Lontar terus saja berjalan menawarkan koran pada siapa saja yang ia temui. Baginya, setiap orang adalah pintu rezeki dan ia tak akan malu menjemput rezeki untuknya. Sampai sepuluh menit berlalu, tetap saja tak ada yang membeli koran. Lontar pun bersandar pada pohon besar di pinggir jalan, kini dilihatnya layang-layang yang ada di langit.


Saat asyik menatap lagit, mendadak pan-dangannya tertuju ke dua layang-layang yang sedang beradu  di langit. Lontar pun fokus melihat ke kedua layang-layang itu, berharap ada yang kalah dan ia akan segera berlari mengejarnya. Cahaya matahari seakan tak mampu menahan mata Lontar untuk terus menatap ke langit meski kini bulir keringat mulai tampak di kulit wajahnya, Lontar masih tetap melihat layang-layang yang beradu di udara itu. Saat yang ditunggu-tunggu tiba ketika salah satu layang layang putus senarnya, kalah, terbang terombang-ambing oleh angin yang membawanya entah ke mana.
"Kesini.. Ke sini.." ucap Lontar tanpa sadar, ia terus menatap layang-layang yang perlahan melayang jatuh. Layang-layang itu perlahan jatuh melayang kesisi seberang jalan tempat Lontar berdiri, tak lama, dari dalam gang sempit juga terlihat anak-anak yang berlari mengejar layang-layang itu, tak mau kalah, Lontar segera berlari menuju layang-layang yang kini terbawa angin sedikit menjauh dari Lontar, Ia yang tak melihat kanan-kiri jalan, segera berlari dan melompati batu besar yang ada di trotoar lalu menyeberang jalan. Matanya tetap mengawasi atah jatuhnya layang-layang itu sambil melihat ke beberapa anak yang juga menuju layang-layang itu.
"Ciiittt!!!" Bunyi Klakson. "Setan!!!"ujar pengendara motor . Decit suara kendaraan motor terdengar keras saat Lontar berlari ditengah jalan, tubuh kecilnya terpelanting karena tersenggol sepeda motor yang melaju dari arah kanan. Lontar jatuh di aspal jalan, namun ia segera berdiri merapikan koran dan langsung menuju ke layang-layang yang hampir jatuh sementara pengendara sepeda motor itu berteriak memakinya, ia masih bisa menjaga keseimbangan hingga tak jatuh namun akibatnya beberapa kendaraan berhenti. Lontar tetap berlari tak menyadari kalau paha kirinya kini tergores dan mengeluarkan darah. Malang baginya, begitu hampir meraih layang-layang seorang anak yang membawa tongkat berhasil mengenai layang-layang itu terlebih dahulu dan dengan bangga berlari ke tepi jalan lalu mengambil layang-layang. 

 Pengendara sepeda motor yang ternyata masih marah itu menepikan motornya lalu berlari ke arah Lontar, melihat itu, Lontar dan anak-anak lainnya pun segera berlari kabur masuk ke dalam gang. Pengendara sepeda motor itu menghentikan larinya, ia kembali ke motor dengan bibir penuh umpatan. Orang-orang ramai berkumpul, namun segera melanjukan perjalanan begitu pengendara sepeda motor itu juga kembali menerskan perjalanannya. Lontar yang diam-diam bersembunyi di balik tempa sampah besar perlahan mulai keluar dan berjalan menuju ke kios koran Bang Ipul. Kini paha kirinya terasa perih, ia melihat ada gorasa dan darah yang mengalir. Karena takut nanti Bang Ipul akan memarahinya, Lontar pun segera mencuci lukanya dan mencari dedaunan yang bisa ia temukan, menumbuknya lalu melumurkannya ke luka agar darah tak mengalir. Cara seperti itu pernah ia lakukan dulu saat kakinya terkena pecahan kaca di tepi rel kereta api, pecahan kaca dari otol minuman keras. Setelah merasa lebih baik, sambil membawa koran di bahunya, Lontar pun kembali ke lapak milik Bang Ipul.


   Anak sekecil Lontar memang sudah terbiasa hidup dan mencoba bertahan dari semua getir yang hadir. Tak ada raut wajah sedih, ia Tetap terlihat begitu semangat meski luka di pahanya semakin terasa sakit. Lontar tetap berdiri melayani para pembeli koran atau majalah di lapak milik Bang Ipul. Beberapa lembar uang dikumpulkannya ke dalam kaleng biskuit yang dijadikan tempat menyimpan uang.

0 Response to "Surga Untuk Ibuku - Sebuah Novel Hasil Karya Riri Ansar ( EPISODE 02 )"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Di Bawah Ini Sahabat :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel